« Kembali
9th Indonesian Dance Festival
Ranjang Besi
Komposisi tari Garin Nugroho ini mampu menciptakan ekstase visual.
Bonardo Maulana Wahono
Rabu, 29 Oktober 2008, 14:33 WIB
The Iron Bed  
The Iron Bed  

VIVAnews - Garin Nugroho tak hanya piawai menggarap film. Komposisi tarinya mampu pula menciptakan ekstase visual. Setidaknya, mereka yang menonton pertunjukan tari “The Iron Bed” pada malam pembukaan The 9th Indonesian Dance Festival (27-31 Oktober 2008) di Graha Bhakti Budaya (GBB) TIM, Selasa 28 Oktober 2008 malam, sudi menjadi saksi.

“The Iron Bed” berpusat pada kisah tentang Siti, gadis ayu yang menikah dengan Setio, pengkutbah pengelana yang dimainkan secara elegan oleh Martinus Miroto. Pernikahan mereka senantiasa dianiaya oleh kehadiran seorang preman bernama Ludiro (Eko Supriyanto).

Hanya berdiam diri di rumah, Siti nan anggun itu cuma bisa leyeh-leyeh di kamar, atau melakukan pekerjaan rumah harian lainnya. Situasi ini menyediakan celah bagi Ludiro, yang kerap mampir menyamar sebagai satria digdaya yang terhormat, untuk merayunya. Tak butuh waktu lama, Siti terpikat bujukan sang pendekar gadungan.

Konflik menjadi semakin tajam ketika seekor monyet, yang selalu menemani Setio, jatuh hati pada adik perempuan Ludiro. Sang monyet, yang telah mencium aroma perselingkuhan Ludiro dan Siti, terjebak dalam obsesi: tetap loyal pada juragannya, dan birahi pada adik perempuan Ludiro.

Namun, dalam carut-marut persoalan itu, humor tetap mendapat ruang lapang. Ada beberapa adegan yang menampilkan kekuatan humor sebagai penjaga 'kemanusiaan'. Misalnya saja, Ludiro, yang berpakaian ala wayang orang itu, tak sungkan-sungkan memakai topi cowboy pada sebuah babak. Di sini, Garin seperti ini mengatakan bahwa identitas itu tak pernah tunggal. Ia merupakan dialog pengalaman.

Ranjang besi dalam pertunjukan tersebut menjadi properti panggung yang sangat sentral. Ia menjadi simbol dari cinta suami-istri yang tak terbantahkan, sekaligus birahi Siti yang tak tertahankan. Bahkan, pada suatu adegan, Siti berhubungan dengan Ludiro ketika Setio sedang tertidur. Dan, ketiganya berada di ranjang tersebut.

Ditemani oleh dua koreografer lulusan University of California, Los Angeles (UCLA) Martinus Miroto dan Eko Supriyanto, sutradara film “Daun di Atas Bantal” tersebut berhasil menyematkan tata artistik istimewa serta penceritaan yang lancar pada keterbatasan panggung teater. Penonton seolah-olah diajak menonton langsung bagaimana Garin mengarahkan film 'Opera Jawa', ibu dari pertunjukan tari ini, yang mengadaptasi epik Ramayana. Gerak, musik dan properti panggung begitu menyatu, saling mengisi.

Tak salah jika “The Iron Bed” memukai publik Swiss saat dipanggungkan dalam Zurcher Theater Spektakel 2008, sebuah festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika.


Menyiasati Keterbatasan

Sebelum pertunjukan “The Iron Bed,” Retno Sulistyorini, 27,  tampil dengan karyanya yang berjudul “Sampiran: Moving Space.” Panggung dibuka dengan kehadiran tiga penari perempuan yang terbungkus kostum dodot bermotif batik yang sering digunakan pada tari bedhoyo. Kain tersebut menutup seluruh tubuh mereka, yang disangga drum anyaman-bambu, yang juga dipakaikan kain.

Bagian 'opening' ini seperti peristiwa rupa. Penari disorot lampu dengan cahaya minimal, yang ditembakkan secara diagonal. Tubuh para penari membeku, menjadi seperti figur pada kanvas lukisan gelap-terang yang gugup itu. Sebentar waktu, suasana ambang tersebut dibikin lebih liris dengan musik gesek yang intens. Penonton dilemparkan ke dalam sebuah situasi tak bernama.

Setelah itu, para penari mulai menggerakkan tangan mereka dengan kaku. Wajah mereka menunjukkan kesakitan tak tepermanai. Lampu semakin intens menjaga gerak mereka agar tak raib, dan musik menjadi juru getar suasana. Sebuah hal telah jelas: dalam keterbatasan ruang, gerak menjadi begitu sakral.

Kostum dodot dengan samparan (kain panjang di bagian belakang) tersebut merupakan masalah kedua, selain drum berdiameter kurang dari setengah meter itu. Penari mesti cerdik mengatur keseimbangan dan awas menyiasati ruang jika tak ingin tersuruk. Namun bukankah segala sesuatu yang berada dalam keterbatasan mensyaratkan hal tersebut?

Koreografer asal Solo ini memang sepertinya ingin mengeskplorasi kemungkinan yang dapat dijangkau oleh penari melalui kain dan ruang. Dari awal penonton mungkin berpikir bahwa para penari akan terus berada di atas drum yang sempit dan terkesan rapuh itu. Namun, ternyata mereka akhirnya turun ke 'ruang tanpa batas' di lantai panggung, dan menari di sana. Meskipun itu tidak lantas berarti bahwa yang berbatas itu selalu bikin pahit dan kalut.

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com