« Kembali
Kisah Tiga Artis Jawara Bela Diri
Ada yang karena di-bully. Ada juga yang berbakat dan tampil berlaga.
Beno Junianto, Stella Maris
Selasa, 3 September 2013, 14:09 WIB
Tya Ariestya (Screen capture video klip Percayalah Padaku)
Tya Ariestya (Screen capture video klip Percayalah Padaku)

VIVAlife--Para artis berikut ini "berbahaya" bagi mereka yang mencoba jahil. Selain tampil cantik, mereka juga piawai beladiri.  Tak banyak memang para artis yang punya kelebihan seperti Julia Perez, Olivia Zalianty dan Tya Ariestya.

Mereka bukan menekuni beladiri untuk sekadar bergaya. Julia Perez, misalnya, sempat tampil mengejutkan di televisi beberapa waktu lalu. Dengan sekali pukulan, ia mematahkan pipa pompa dragon, meremukkan batu bata, dan juga kikir besi.

Julia Perez, alias Jupe memang menekuni silat Merpati Putih. Menilik caranya mengatur pernafasan, dan pasang kuda-kuda, dia pastilah bukan pesilat pemula. Ada pula Olivia Zalianty, dan Tya Ariesta. Kedua artis itu masing-masing mendalami wushu, dan taekwondo.

Yang menarik, mereka menekuni beladiri itu dengan sungguh-sungguh. Mereka menyediakan waktu kosong untuk berlatih. Kemampuan fighting-nya pun tak boleh dianggap remeh. Bahkan, ada yang bertarung sungguhan di arena kompetisi.

Jupe dan trauma bully

Julia Perez menekuni silat Merpati Putih sejak usia 9 tahun. Seperti diakuinya, masa kecilnya tak begitu bahagia, ia besar di keluarga yang retak. Ia juga kerap jadi sasaran empuk rekan sebaya untuk di-bully. Bocah-bocah nakal temannya itu kerap menuding Jupe sebagai anak yang bermasalah.

"Di sekolah saya di-bully. Pernah dijambak dan dipukul, dan itu cowok semua," ujar Jupe. Dia kerap pulang ke rumah dengan menangis. Ibunya, Sri Wulansih, tentu tak rela putrinya jadi bulan-bulanan. Ibunya menanamkan kepada Jupe, agar berani menghadapi masalah, dan tak takut pada siapa pun.

Di sekolahnya, waktu itu ada kursus beladiri. Pilihannya pencak silat dan karate. Jupe memilih pencak silat, Merpati Putih. "Kata mama yang bisa buat saya aman," ujar Jupe.

Di Merpati Putih, Jupe belajar banyak. Beladiri asli nusantara itu tak hanya melatih dirinya mengolah energi murni, meningkatkan kepekaan, namun juga welas asih. Pelan-pelan, ia mulai menguasai jurus-jurus penting, yang digerakkan oleh tenaga dalam.

"Intinya saya nggak mau buat sombong-sombongan, atau apalah namanya. Saya hanya butuh modal membela diri," ujarnya. Sejak ikut Merpati Putih, Jupe mulai merasakan dampaknya: dia mulai disegani para teman prianya di sekolah.

Jupe tampaknya cukup puas dengan pencapaian itu. Dia juga tak ingin menjadi juara. Itu sebabnya Jupe tak berniat mengadu kepiawaian silatnya di kompetisi, meskipun sekali dua dia pernah menjajal arena tarung. "Saya ikut. Tapi saya kalah terus," ujarnya.

Dia sebetulnya tak gentar menghadapi lawan pria, yang secara fisik lebih tangguh. Awalnya sempat deg-degan. Tapi bagi Jupe pengalaman berkelahi dengan banyak pria itu penting. "Itu modal saya jadi berani kalau ketemu orang jahat," ujar Jupe.

Lalu apa yang akan dilakukannya jika bertemu orang jahat? Dengan bergurau dia mengatakan telah menyiapkan jurus baru: "jurus Jupe seksi". Geraknya masih rahasia. "Yang pasti musuh jadi takluk dan nggak berani iseng dan kasar sama saya," ujarnya tertawa.

Jupe juga bercerita bahwa tak mudah menjadi pendekar Merpati Putih sejati. Latihan fisiknya cukup menantang. Ia bahkan sempat pingsan, dan keletihan saat latihan itu berlangsung di sebuah gunung.

"Sampai sana saja sudah drop. Beberapa kali pingsan. Tapi saya selalu semangat, karena bela diri ini kan juga ajang mencari ilmu," ujarnya.

Karena terbilang cukup lama bergabung di Merpati Putih, Jupe sempat ditawarkan jadi pelatih oleh seniornya. Tapi dia menolak halus. Alasannya: belum siap. "Bela diri ini nggak main-main. Ada tenaga dalamnya. Jadi mending saya tolak deh jadi pengajar," ujarnya merendah, dan merasa dirinya belum lagi menjadi pesilat senior.

Olivia Zalianty, pendekar Wushu

Olivia Zalianty jatuh cinta dengan Wushu, dan itu bukan karena dorongan semacam dendam seoarang korban bully seperti dialami Jupe. Oliv, begitu dara jelita ini disapa, mengaku menekuni Wushu sejak lima tahun lalu.

Ia naksir bela diri asal Tiongkok ini karena gerakan washu yang artistik, dan kental ajaran filsafat.  Beladiri ini belum begitu lama ditekuninya, tapi bak tertarik magnit, Oliv menyemplungkan dirinya secara total. "Saya belajar keras ingin menjadi pemain wushu profesional," ujarnya.

Usaha itu tak sia-sia. Kepada VIVAlife, Oliv berkisah bagaimana dia meraih medali perunggu untuk kelas pedang dalam Kejuaraan Internasional Wushu Camphionship di Hongkong, April 2011. Arena tarung di Hong Kong itu telah menyuntik semangat Oliv berkarier di dunia wushu secara profesional.

Di kejuaraan wushu itu, dara berdarah Tionghoa ini tak unjuk gigi sendiri. Ada atlet dari Indonesia lainnya yang berhadapan dengan peserta dari 55 negara dari sekujur dunia.

Meski sebagai artis dia biasa tampil di muka publik, tapi ini adalah kejuaraan perdana baginya. Dia gugup, berlatih keras, dan kadang terserang "demam panggung". Dia cemas dengan pertandingan yang membuatnya sibuk keluar masuk kamar mandi.

Kegugupan itu baru lenyap ketika nanmanya dipanggil ke ke lapangan berwarna hijau. Dia hanya bertekad satu: memeberikan yang terbaik. Saat kompetisi, dia tampil sendiri, tanpa lawan.

Oliv memainkan wushu taolu dengan pedang. Dengan lincah dia bergerak, berkelebat, menyabet pedang secepat kilat. Ia bak pendekar di film silat Mandarin. Apalagi tubuhnya dibungkus cheong sam, pakaian tradisional Cina. Jadilah dia memukau penonton, dan para juri. Oliv, adik kandung Marcella Zalianty itu pun,meraih medali perunggu.

Dan dia kembali lagi ke ajang yang sama tiga bulan lalu. Saat itu, Oliv berkelebat lebih indah, lincah, dan bertenaga. Dia meraih medali emas.

Tya Ariestya, duta Taekwondo

Tya Ariestya belum mengenal dunia panggung artis sewaktu dia berlatih taekwondo. Tapi dia sudah lebih dulu menaklukan panggung beladiri asal Korea itu. Tya merebut beberapa medali dalam sejumlah ajang bergengsi. Dia mengantungi 8 emas, dua perak, dan satu perunggu.

"Aku latihan taekwondo sejak umur 7 tahun dan ikut kompetisi umur 11 tahun," ujarnya. Dengan prestasi itu, dan juga kini kariernya sebagai artis, Tya diangkat menjadi duta taekwondo.

Bagi Tya, tugas baru itu seperti mimpi. Ia pernah menjadi juara, tapi itu satu dekade lalu, dan kini ia sudah menggantungkan sabuknya. "Sekarang dapat tugas baru nggak main-main," ujar Tya.

Beladiri Taekwondo, baginya, bukan hanya sebagai hobi semata. Meski sudah tak aktif berlaga, Tya masih ikut mengkampanyekan pentingnya beladiri asal Korea itu. "Jaman sekarang perempuan gampang banget jadi sasaran kejahatan. Jadi apa sulitnya sisihkan waktu belajar bela diri," ujarnya.

Aksi kejahatan kadang tak bisa dihindari. Tya pernah mengalaminiya, tapi ia tak mau bercerita detil peristiwa itu. Yang jelas, ia terhindar dari aksi kejahatan karena berhasil melawan si penjahat. Ia melesakkan sejumlah tendangan ke arah perut lawan.  "Saya pukul ke arah wajah, dan menjatuhkannya ke tanah. Itu ampuh banget," ujarnya.

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com