« Kembali
Soal Kasus Solmed, TKI Hong Kong Kirim Surat Terbuka
Karena masalah ini, Solmed tak takut dilaporkan ke polisi.
Lutfi Dwi Puji Astuti, Heryu Nandiasa
Selasa, 20 Agustus 2013, 15:53 WIB
Ustaz Solmed (VIVAnews/Beno Junianto)
Ustaz Solmed (VIVAnews/Beno Junianto)

VIVAlife- Ustaz Soleh Mahmoed belakangan menjadi perbincangan publik lantaran ia diduga tiba-tiba menaikkan tarif dakwahnya di Hong Kong.

Karena masalah ini, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong bernama Rihanu Alifa membuat surat terbuka yang ditujukan untuk sang ustaz.

Surat terbuka Rihanu dimuat dalam situs nabawia.com 18 Agustus 2013. Sebagian isinya mengungkap soal rasa kecewanya pada Solmed.

Sebelumnya Solmed mengaku, para jemaah yang datang dikenakan tiket masuk di luar sepengetahuannya. Ia menduga, panitia meraup keuntungan Rp150 jutaan yang diduga untuk kepentingannya sendiri.

Mengetahui kabar ini, Rihanu tertantang untuk membuat surat terbuka tersebut.
"Sebagai TKI Hong Kong, saya memang mengikuti perkembangan konflik ustaz dengan salah satu event organizer (EO) di Hong Kong yang mengundang ustad untuk berceramah. Namun, saya tak ikut ambil pusing," tulis Rihanu.

Ia juga menyatakan bukan bagian dari EO yang menyelenggarakan dakwah Solmed. Namun, ia berpikir perselisihan Solmed dan EO tersebut bisa diselesaikan. Ia pun kecewa, saat Solmed semakin sering membuat pernyataan yang tidak-tidak di twitter pribadinya dan cenderung memfitnah.

"Di infotainment, ustaz menyebut angka Rp150 juta yang bakalan dikeruk oleh EO di Hong Kong dari penjualan tiket masuk yang dijual kepada para jamaah. Izinkan saya bertanya, dari mana ustaz dapatkan angka fantastis tersebut?"

Hampir tujuh tahun, Rihanu mengaku bekerja di Hong Kong dan selama 4 tahun terakhir ini, ia berkecimpung dalam organisasi yang kadang menjadi EO suatu acara dengan mengundang bintang tamu artis dari Indonesia.

"Sedikit banyak, saya tahu seluk-beluk penyelenggaraan acara di Hong Kong," tulisnya lagi.

Untuk gedung di Sheung Wan, ia mencontohkan,  yang rencananya akan dipakai untuk acara yang sedianya akan dihadiri Solmed, ia mengaku sudah 3 kali saya memasukinya.

Gedung tersebut merupakan ruangan berbentuk L yang kapasitasnya  hanya muat untuk 500 orang, itu pun sudah terlalu berjejal.

Ia melanjutkan, jika tiket masuk dijual seharga 50 dolar Hong Kong, dan pengajian diadakan dua sesi, maka hasil dari penjualan tiket adalah: 50 x 1000 orang = 50.000 dolar Hong Kong.

Kurs saat ini, dijelaskannya dalam surat terbukanya, kurang lebih HK$ 1 = Rp 1.300. "Jadi, jika ustaz menyebut angka Rp150 juta, maka saya katakan hal tersebut adalah AJAIB (kalau tak mau dikatakan OMONG KOSONG)."

Ia juga menilai, pengajian di Hong Kong dengan menjual tiket itu sudah lazim di kalangan tenaga kerja Indonesia di Hong Kong. Apalagi menggunakan masjid atau gedung, katanya  tidak bisa gratis. "Minimal perlu HK$ 4.000 untuk sewa satu gedung. Itu pun harga gedung di pelosok. Di pusat kota bisa dua kali lipat."

Belum lagi sewa sound systemnya. Harga sewa sound system berkisar HK$ 5.000 ke atas. Belum lagi ditambah biaya pembelian tiket pesawat untuk ustaz dan manajer ustaz, biaya hotel, konsumsi,transportasi, dll.

"Jika pun acara dilaksanakan di tempat terbuka, seperti lapangan Victoria Park, itu juga harus ada izin dari pengelolanya."

Setidaknya, penyelenggara acara harus membayar uang asuransi pada pengelola taman jika ingin menggunakan area tersebut. Hal ini diketahuinya saat mencari info tentang penggunaan lapangan rumput dan tenda putih atas Victoria Park.

Dan lebih fantastis lagi, lanjutnya, sound system kalau untuk outdoor seperti di lapangan Victoria Park, harga sewanya bisa mencapai belasan juta rupiah. "Jadi, jika ustaz mengatakan bahwa dakwah  dijadikan lahan bisnis oleh EO di Hong Kong, saya sangat meragukan hal ini," tulisnya lagi.

Ia pun menuliskan, jika acara pengajian itu memperoleh keuntungan dari penjualan tiket serta dana dari kotak amal, maka dana tersebut tidak akan masuk ke kantong panitia penyelenggara, melainkan disumbangkan ke Indonesia, entah itu untuk pembangunan mesjid, pesantren, dll.

"Mengenai hal ini, mungkin ustaz bisa bertanya pada EO yang mengundang ustaz, berapa pondok pesantren yang sudah mereka biayai dari uang sisa yang didapat dari acara pengajian yang mereka adakan," tulisnya panjang lebar.

Soal peseteruan Solmed dengan TKI di Hong Kong pun hingga saat ini semakin ramai diperbincangkan. Namun Ustaz  Solmed yang dihubungi VIVAlife tak ingin bicara panjang lebar.

"Saya sudah closed soal Hong Kong. Saya tidak akan mau wawancara lagi soal itu. Maaf, maaf banget ya," ujarnya lewat sambungan telepon.

Menurutnya, jika terus ditanggapi, masalah tersebut justru bisa makin melebar. Ia pun tidak takut jika nantinya pihak penyelenggara acara dakwahnya di Hong Kong melaporkan ke jalur hukum.

"Harusnya sejak awal mereka lakukan itu jika memang mereka berada di pihak yang benar. Bukannya malah berkoar-koar seperti ini," tuturnya.

Ia pun menyatakan, masalah ini tidak mengganggu aktivitas dakwahnya atau menjadi permasalahan dalam rumah tangganya ."Sama sekali tidak. April juga baik-baik saja. Dia selalu mendoakan dan mendukung saya," katanya. (umi)
• VIVAlife   |   Share :  
  • elbantary
    20/08/2013
       Laporkan
    Yang seperti itu udah banyak, baru nemu ya.... ustadz yang waro'/apik biasanya tinggal di pedalaman.... hidup apa adanya...
  • gondes
    20/08/2013
       Laporkan
    Solmed menjual agama demi kepentingan pribadi, sangat memalukan dan menjijikkan.
  • grd1589
    20/08/2013
       Laporkan
    makin banyak utsaz yg gila duid.. setelah yusuf mansur + ustadz solmed, nest siapa lagi ye yg mau ngebisnis lg bareng pak ustadz??
  • herrykeong
    20/08/2013
       Laporkan
    dazal....

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com