« Kembali
Plesir ke Cingkuak, Pusara Kejayan Belanda Abad-17
Tak sekadar cantik dari tepian, makin ke dalam makin sejuk.
Wuri Handayani, Eri Naldi (Padang)
Selasa, 11 Juni 2013, 09:42 WIB
Sisa situs Benteng Portugis di Cingkuak. (VIVAnews/Eri Naldi)
Sisa situs Benteng Portugis di Cingkuak. (VIVAnews/Eri Naldi)

VIVAlife - Pasir putih berbalut biru air laut serta raungan perahu tempel menyibak kejernihan laut di Pantai Carocok, Painan. Makin jauh air laut makin biru, pasir tak lagi terlihat, namun suara mesin perahu masih lekat mengantarkan pengunjung sampai ke Pulau Cingkuak, Kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. 

Saya, Ery Naldi dan sejumlah rombongan kecil Tour de Singkarak 2013 menyempatkan berlabuh di pulau kecil seluas 4,5 hektare ini. Sebuah jembatan beton menghubungkan tepian pantai dengan dermaga menuju Pulau Cingkuak di Pulau Batu Kereta.

Dari namanya, Pulau Batu Kereta dihiasi karang besar yang mengelilingi pulau kecil ini. Perahu pun melaju pelan melewati Pulau Batu Kereta menuju laut lepas. Nelayan yang membawa kami menawarkan servis tambahan mengelilingi Pulau Cingkuak sebelum sandar di dermaga.

"Keliling pulau satu orang tambah ongkos Rp5.000," kata nahkoda kapal tempel. Servis tambahan ini pun mendapat tanggapan positif dari rombongan. Kami memang ingin merasakan hawa segar yang menyelimuti pulau. 

Tak sampai lima menit perjalanan, kapal kecil bermuatan maksimal 30 orang ini pun menabrak lembut pasir putih Pulau Cingkuak. Hamparan pasir putih yang menggoda kami untuk segera melompat. Mengakrabkan kaki-kaki kami pada alam.

Pulau yang mirip kapal perang ini memang indah. Tak sekadar cantik dari tepian. Sejumlah wisatawan tampak berenang, sebagian lain bersnorkeling mengagumi laut dangkal dan isi perutnya yang penuh biota alami. Beberapa yang lain menguji suara dengan teriakan nyaring di atas banana boat yang ditarik kapal.

Di pulau ini, pengunjung juga bisa menikmati sisa-sisa sejarah keberadaan bangsa Portugis. Menjumpai kuburan tua Madame van Kempen yang bertuliskan tahun 1911 di pulau yang didominasi pohon kelapa.

Nama pulau ini diambil dari nama hewan sejenis kera, Cingkuak. Menurut para pedagang makanan yang berjajar di tepian Pantai Carocok, kera itu dulu meninggali pulau. Sayang, keberadaannya kini sudah tak bisa ditemukan. 

Puas mengitari pulau kecil ini, kami pun kembali menaiki perahu untuk kembali ke tepian Pantai Carocok. Bagi pengunjung yang hobi memancing, Pulau Batu Kereta yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki lewat jembatan beton, bisa dijadikan spot  menyalurkan hobi.

Rangkaian jembatan beton ini yang akan mengantarkan Anda ke tengah Carocok. Sejumlah gazebo menjadi titik istirahat. Pada siang hari, pasang surut akan menghadirkan pemandangan menarik dari jembatan beton yang mengambang di Pantai Carocok.

Sejarah Cingkuak

Sederet sisa-sisa bangunan yang diyakini masyarakat sebagai benteng Portugis, serta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala masih terlihat kokoh berdiri. Sejarah mencatat, pulau ini merupakan lokasi pertama kolonial Portugis menginjakan kaki di Pantai Barat Sumatera.

Serikat dagang Belanda (VOC) pun sempat membangun loji (benteng pertahanan, kota, gudang) di pulau ini. Sebelum memilih Muaro sebagai lokasi utama perdagangan mereka di Pantai Barat Sumatera. Di sini pula VOC menyimpan lada dan pala hasil bumi masyarakat di Pesisir Selatan, Padang.

"Komoditi ini menjadi primadona Eropa saat itu, VOC memilih Cingkuak sebagai pusat ibukota dari Air Haji, Indrapura, dan Painan," kata sejarawan Universitas Andalas, Profesor Gusti Asnan pada VIVAlife.

Menurut Gusti, Pulau Cingkuak menjadi pusat pemerintahan bagi tiga daerah tersebut diperkiarakan pada abad 17 hingga 18. VOC sempat berdiam di pulau kecil ini selama 20 hingga 30 tahun, sebelum menemukan kawasan Muaro, Padang, sebagai lokasi baru.

Perpindahan Belanda ke Muaro pun, menurut Gusti, lebih kepada beralihnya primadona komoditi  Eropa yang berpindah dari pala dan lada ke kopi.

Sedangkan makam Madame van Kempen yang ada di pulau, diyakini sebagai isteri seorang residen Belanda yang berkuasa di Kabupaten Pantai Barat Sumatera yang pusatnya berada di pulau ini.

Ragukan Keberadaan Portugis

Keberadaan bangsa Portugis pun diyakini masyarakat sebagai bangsa pertama yang menginjakan kaki di Pulau Cingkuak. namun ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Gusti mengakui, kecil kemungkinan bangsa Portugis menginjakan kaki di pulau ini karena tak satu pun catatan dari orang Portugis yang menyebut Pulau Cingkuak dalam laporan ekspedisinya.

Ia mengatakan, ekspedisi Portugis sempat beberapa kali melewati Pantai Barat Sumatera untuk mencari komoditi emas. Hal ini terjadi saat Portugis berhasil menaklukan Malaka. "Jadi, mereka mengarungi Pantai Barat Sumatera pada tahun 1517, 1520, dan setelah itu ada sekali lagi pelayaran. Tujuan utamanya mencari emas," kata Gusti. (eh)


• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com