« Kembali
Tren Dokter Twitter
Konsultasi online tidak dapat menggantikan tatap muka dengan dokter.
Maya Sofia, Stella Maris
Selasa, 16 April 2013, 08:29 WIB
Beberapa tahun belakangan, jasa konsultasi dokter via online kian menjamur, seiring pesatnya perkembangan teknologi. (iStockphoto)
Beberapa tahun belakangan, jasa konsultasi dokter via online kian menjamur, seiring pesatnya perkembangan teknologi. (iStockphoto)

VIVAlife - Usai makan malam, tak seperti biasanya tiba-tiba muncul ruam di sekujur tubuh Yani. Buru-buru, ia pun menenggak obat alergi. Namun, ruam tak kunjung sembuh. Kulitnya justru semakin gatal. Lambungnya perih seperti orang terkena maag. Panik. 

Dia tetap di rumah, dan tak segera ke klinik. Wanita yang bekerja sebagai pegawai swasta itu memilih bertanya dulu kepada seorang dokter lewat situs microblogging Twitter.

Tak sampai lima menit, sang dokter membalas pertanyaan Yani. Setelah membaca gejala yang dialami Yani, ia pun menyarankan wanita berusia 30 tahun itu segera memeriksakan diri lebih lanjut ke rumah sakit. Malam itu juga, Yani ikut saran sang dokter.

Yani adalah satu dari sekian banyak pengguna internet yang memanfaatkan jasa konsultasi dokter via online. Beberapa tahun belakangan, jasa ini kian menjamur, seiring pesatnya perkembangan teknologi. Tak hanya lewat blog, kini jasa konsultasi dokter menjalar hingga media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Bagi masyarakat, kehadiran dokter di dunia maya ibarat angin segar di tengah mahalnya biaya kesehatan. Soalnya, mereka bisa mendapatkan jasa konsultasi cuma-cuma tanpa dipungut bayaran sepeser pun. 

Tanti, seorang ibu rumah tangga, misalnya. Dia mem-follow empat akun twitter dokter, merasa cukup terbantu dengan kehadiran jasa konsultasi dokter online. “Nggak parno dan khawatir lagi. Jadi, harus tahu apa yang dilakukan saat anak ada masalah kesehatan. Pokoknya menambah ilmu,” ucap ibu satu anak ini.

Berawal dari milis

Dari sekian banyak akun dokter di situs jejaring sosial, @blogdokter termasuk salah satu yang paling populer di Tanah Air. Akun yang dibuat pada 2007 itu kini punya hampir 600 ribu follower. Pengikut setianya tersebar dari berbagai penjuru Indonesia.

Akun @blogdokter dikelola oleh dr. I Made C. Wirawan. Pria yang kini bekerja di Rumah Sakit Tentara Pembantu Atambua, Gerbades, Atambua, NTT tersebut, sangat aktif memberikan informasi seputar kesehatan dan menjawab pertanyaan dari para follower. Itu semua ia lakukan di sela-sela kesibukannya saat menjalani tugas sebagai seorang dokter.

“Saat ada pasien, saya periksa pasien. Saat luang, saya buka komputer atau tablet untuk berinteraksi di dunia maya. Jadi, kemunculan saya di dunia maya tidak tentu,” ujarnya.

Perkenalan dr. I Made dengan internet bukan terjadi baru-baru ini saja. Bisa dikatakan internet adalah hobi pria kelahiran Denpasar ini selain membaca buku. Sejak 1999, ia aktif dalam berbagai milis komunitas teknologi informasi (TI). Dari situ pengetahuannya tentang teknologi kian bertambah. 

Usai lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dr. I Made menyadari bahwa Indonesia belum memiliki komunitas khusus kesehatan. Berangkat dari hal itu, ia akhirnya membuat milis dokter_umum. Milis yang kini anggotanya mencapai 4.000 e-mail itu mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. 

Sukses “mengorganisasi” milis itu, dr. I Made makin bersemangat berbagi konsultasi gratis di dunia maya. Pada 2004, ia membuat sebuah blog.  Awalnya mandeg, belakangan dr. I Made makin rajin menggarap serius blognya itu.

Tak diduga, berbagai tulisan di blog itu mendapat sambutan luar biasa dari pengguna internet. Maka, pada 2007, dr. I Made memutuskan punya hosting dan domain sendiri dengan alamat blogdokter.net.

Pada tahun itu pula, dr. I Made mulai berkenalan dengan media sosial baru. Dari blog, perjalanannya pun berlanjut ke situs microblogging Twitter. Dia membuat akun @imcw. Merasa kurang klop dengan namanya, ia pun mengubah @imcw menjadi @blogdokter pada 2009.

“Sampai kini, semua akun yang saya buat, baik di milis, blog, Twitter, dan Facebook masih aktif,” katanya.

Gaya penulisan dr. I Made yang santai membuat akun miliknya digemari banyak orang. Menurut dia, kesehatan kalau ditulis dengan serius akan susah dimengerti. Apalagi oleh orang yang awam dengan istilah kedokteran. 

“Walau karena kelewat nyantai kadang ‘dimarahi’ oleh follower saat saya menulis kata-kata yang tidak pas,” ucapnya.

Setiap hari, dr. I Made berbagi informasi soal kesehatan dari buku dan jurnal yang ia baca. Tak jarang ia memberikan kultwit dengan tema berganti-ganti. Mulai dari soal makanan sehat untuk ibu menyusui hingga soal meningitis. Semua kultwit selalu diberi tagar untuk memudahkan follower-nya melakukan pencarian. Meski menyediakan jasa konsultasi, dr. I Made tetap menaruh batasan-batasan sesuai etika kedokteran.

Konsultasi yang diberikannya hanya bersifat informatif. Ia tak bisa menegakkan diagnosis dan memberi pengobatan melalui media sosial. Sebab, proses menegakkan diagnosis sampai memberi obat tidak bisa jarak jauh, atau harus melalui interaksi langsung antara dokter dan pasien.

“Saya tidak pernah mendiagnosis pasien melalui media sosial. Saya hanya menjawab kemungkinan dan menyarankan si pasien untuk ke dokter agar diperiksa secara langsung,” ujarnya.

Tak boleh main tebak

Jika dr. I Made mengelola sendiri media sosialnya, lain hal dengan akun @TanyaDok.com. Akun Twitter dengan jumlah follower sekitar 57 ribu ini dikelola sang pendiri, dr. G. Bimantoro dengan beberapa rekannya. Cikal bakal akun @TanyaDok.com  bermula dari blog tanyadokteranda.com yang dibuat pada 2006. Seiring waktu, blog itu berkembang menjadi sebuah portal pada 2009.

“Kemudian, melihat tren Facebook dan Twitter, pada akhir 2010 kami kembangkan juga interaksi di social media. Tahun 2012 kami rebrand sebagai TanyaDok.com,” ujar dr. Bimantoro.

Masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan menjadi salah satu alasan dr. Bimantoro mendirikan jasa konsultasi online. Menurut dia, kesadaran dan perilaku hidup sehat belum menjadi bagian integral kehidupan masyarakat. Akses dan informasi kesehatan masih sangat terbatas. 

Bahkan, untuk sosial ekonomi menengah ke atas, baru akan ke dokter setelah kondisi sakit parah. Akhirnya semua terlambat dan susah ditolong.

“Jadi, visi kami adalah meningkatkan kualitas hidup dengan memberikan akses kesehatan yang lebih baik,” ucapnya.

Bagi para dokter ini, menyediakan waktu luang menjawab pertanyaan follower lewat media sosial bukan perkara mudah. Sebagai dokter, mereka dituntut harus sigap ketika mendapat panggilan darurat. Itulah sebabnya @TanyaDok. com dikelola oleh tim, bukan individu. Secara bergantian, dokter standby di media sosial setiap harinya, mulai dari pukul 08.00-22.00 WIB.

Biasanya kurang dari 15 menit atau paling lama satu jam, pertanyaan dari follower sudah terjawab. “Akan tetapi jangan dikira urusannya hanya ‘nongkrong’ di media sosial saja. Sehari-hari begitu banyak kolaborasi dengan berbagai pihak yang kami bina,” ujarnya.

Pasien yang menjadi follower @TanyaDok. com berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, mahasiswa, hingga jurnalis. Menurut dr. Bimantoro, tak sedikit yang bertanya kepada mereka untuk bahan skripsi maupun tugas sekolah.

Seperti dr. I Made, dr. Bimantoro juga memastikan bahwa pihaknya tidak memberikan diagnosis dan terapi definitif lewat online. Namun, berbagai tips kesehatan bisa diterapkan sebagai terapi sebelum ke pelayanan kesehatan. Apabila kondisinya perlu bertemu langsung atau pemastian diagnosis, mereka bekerja sama dengan berbagai layanan kesehatan dan rumah sakit.

“Konsultasi yang diberikan secara online tidak dapat menggantikan tatap muka dengan dokter,”  kata CEO Atoma Medical ini.

Menanggapi semakin maraknya jasa konsultasi dokter via online, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr.  Zaenal Abidin, MH Kes mengaku tak masalah asal dilakukan sesuai etika kedokteran. Pihaknya hanya mewanti-wanti bahwa dokter tidak boleh mendiagnosis tanpa diawali pemeriksaan. Apalagi, kemudian dilanjutkan dengan pemberian resep obat.

 “Tidak boleh main tebak-tebak,” katanya.

Menurut Dr. Zaenal, dokter diperbolehkan memberikan informasi gejala-gejala dan kemungkinan penyakit lewat online. Dalam praktik dokter, dia melanjutkan, biasa disebut promotif atau peningkatan pengetahuan pasien tentang gejala-gejala atau tanda-tanda suatu penyakit.

“Sifatnya memberikan informasi pada masyarakat,”  ujar Dr. Zaenal.

Akan jadi tren

Senada dengan Dr. Zaenal, sosiolog Devi Rahmawati menilai bahwa mempromosikan sesuatu adalah hal lumrah dalam sebuah industri. Dalam hal ini, para dokter dinilai sudah cukup memahami perilaku konsumen dan dengan mudah dapat ditemukan di dunia maya.

“Sifat teknologi sekarang ini adalah untuk berdialog dan tidak lagi satu arah dan menurut saya ini sebuah kemajuan,” ujar Devi.

Menurut dia, tren dokter menawarkan jasa konsultasi lewat online masih akan berlangsung dalam beberapa tahun mendatang. Tak hanya dokter, semua profesi juga akan mengarah pada penggunaan media sosial. Itu karena dunia maya sudah menjadi dunia yang nyata.

“Jadi apa pun profesinya, mau tidak mau, suka tidak suka, mengerti atau tidak mengerti, mereka harus masuk ke sana,”  ucapnya. (art)

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com