VIVAlife - "Better small and early, rather than big and late." Kalimat yang terbaca di sebuah artikel Majalah Forbes ini menjadi penyemangat Lucy Wiryono dan suami mengawali bisnis kulier: Holycow! Steakhouse by Chef Afit.
Bermula dari warung kaki lima dengan enam pekerja, usaha steak wagyu itu berkembang menjadi restoran nyaman yang selalu didatangi para carnivores, sapaan khas bagi pelanggan. Hanya dalam dua tahun, pekerjanya pun berlipat menjadi sekitar 40 orang.
Restoran dengan kapasitas 70 orang itu tak pernah sepi. Bangku-bangku yang tertata di teras pun selalu sesak dengan pengunjung yang masuk daftar tunggu (waiting list). Saking ramainya, jarang rasanya bisa bersantap tanpa melewati antrean.
Warung yang semula hanya sanggup menyajikan sekitar 50 porsi sehari ini, kini bisa melayani 300-400 porsi. Bahkan, bisa mencapai 600 porsi di akhir pekan. Membuat semakin banyak Carnivores bisa mencicip wagyu tanpa menguras kantong.
Sembari menyantap Wagyu Rib Eye favoritnya, Lucy Wiryono menemani VIVAlife berbincang seputar kisah di balik sukses binis ini, di Holycow! Steakhouse by Chef Afit, Jalan Bakti No 15, Senopati, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.
Cerita seru mengalir dari wanita yang juga populer sebagai presenter acara olahraga ini. Berikut petikan obrolan kami!
· Mimpi awal usaha ini?
Aku dan Afit (suami) sebetulnya ingin membuka sebuah tempat makan steak yang bagus, tapi ya modalnya terbatas. Jadilah kami membuat konsep warung steak. Waktu itu, belum ada orang yang jual wagyu dengan harga murah. Kami pun muncul dengan konsep gila: jualan steak wagyu kaki lima.
Tempatnya ngemper di pinggir jalan. Itupun bukan milik kami sendiri, tapi nebeng di sebuah toko kaca film mobil. Semua benar-benar seadanya. Waktu buka Maret 2010, yang kerja cuma enam orang. Afit sebagai juru masak. Semua menu memang hasil racikan dia. Saya kebagian marketing.
Aku jadi partnernya Afit untuk memikirkan semua gimmick marketing, hubungan dengan media, urusan public relation, sampe melatih kemampuan public speaking karyawan ketika harus menghadapi konsumen.
· Modal nekat?
Nekat tapi penuh perhitungan. Berbisnis bukan sekadar punya modal nekat dan passion, tapi harus memiliki proyeksi jangka panjang. Setidaknya siap dengan segala risiko buruk di satu tahun pertama.
Sebelum buka usaha ini, Afit berkali-kali nanya apa aku dukung. Nanya hampir tiap hari sampai kaya kaset rusak. Katanya kalau aku nggak dukung nggak akan berkah. Ya wajar sih, karena kami nggak akan tahu apa usaha yang akan kami jalani akan berhasil atau gagal.
Afit juga tanya apakah aku siap menjadi penyokong keuangan keluarga dengan pekerjaanku sebagai presenter, setidaknya selama setahun mencoba bisnis ini. Ya ini menjadi risiko karena Afit harus berhenti kerja. Tak lagi punya penghasilan tetap dan kehilangan fasilitas kantor.
***
(Lucy yang sempat menolak keras ide suami beralih dari pekerja kantor menjadi pengusaha akhirnya luluh. Ia tersentuh dengan ucapan suami yang bilang: "Kalau aku kerja kantoran, yang ngerasain hasilnya paling kamu, anak kita, keluarga dan lewat zakat. Kalau aku buka usaha sendiri, bisa buka lapangan pekerjaan untuk orang lain, bisa menambah penghasilan orang itu, membuat anaknya bisa sekolah, gizinya juga lebih baik. Lebih banyak manfaatnya.”)
***
· Kenapa Holycow!?
Holycow! itu kan ekspresi kekagetan, slanknya kalau dalam bahasa Inggris. Nah, kami juga ingin memberi kejutan: Kenapa kok wagyu bisa murah? Kok ulang tahun bisa dapat wagyu gratis?
· Kenapa wagyu?
Ini gara-gara Afit diajak makan wagyu yang harganya selangit sampai Rp600 ribu seporsi. Lalu karena penasaran, kita coba beli daging wagyu mentah dan olah sendiri. Kita lalu berpikir ternyata nggak mahal-mahal amat kok.
Untuk tes pasar sebelum buka warung, kami sempat terima pesanan steak wagyu. Kita ingin lihat respons orang-orang sama masakan Afit. Ternyata positif, banyak yang kemudian tanya buka tempat makan di mana.
· Afit sendiri yang memasak?
Iya. Dia sendiri yang meracik menunya, dan sampai sekarang juga masih terjun di dapur. Dari dulu dia memang suka memasak. Lalu mengundang teman atau keluarga untuk makan di rumah. Kalau lagi coba-coba menu baru aku biasanya yang jadi tukang cicip, hahaha ...
· Pengalaman seru dengan Holycow!?
Banyak. Cuma satu yang paling tak bisa aku lupa adalah melihat perjuangan Afit yang tadinya orang kantoran dengan kemeja dan bau wangi, harus masak di pinggir jalan. Awal-awal dia sempat mau nangis, bukan karena malu jualan di kaki lima, tapi karena harus masak sendiri sementara antrean mengular. Belum lagi banyak yang nggak percaya dia ownernya.
· Semua urusan juga marketing ditangani sendiri?
Iya. Aku pegang semua urusan marketing, termasuk mengelola social media. Akun Twitter, Facebook, semua aku pegang sendiri. Aku juga yang kebagian tugas mikirin mau bikin ide apa, mau kasih gimmick apa ke pelanggan, dan bagaimana harus membangun komunitas pecinta Holycow!
· Kenapa media sosial?
Sebenernya lebih karena nggak ada uang buat marketing hahaha... Ternyata efektif banget sebagai media promosi sekaligus edukasi. Saat itu, banyak orang yang penasaran dengan wagyu itu apa. Karena ini mungkin steak wagyu pertama di pinggir jalan, biasanya kan cuma ada di restoran mewah dengan harga selangit.
***
(Lewat kicauan Lucy di Twitter pada awal-awal buka, tahun 2010, steak Holycow! sempat menjadi perbincangan seru di dunia maya. Hanya dengan mention akun Holycow, Carnivores bisa dapat tiramisu gratis saat datang bersantap.)
***
· Mimpi Holycow!?
Kami tidak ngoyo menjalani bisnis ini. Meski kadang banyak yang antre, setiap jam 14.00 kami juga harus tutup karena perlu membersihkan dapur dan peralatan masak. Kami tak akan mengorbankan kualitas dan kebersihan hanya gara-gara takut kehilangan profit.
Yang penting kami harus bisa jaga kualitas, dan disiplin dalam menjalani bisnis ini. Termasuk ketika aku atau keluargaku datang untuk makan, kami juga harus bayar di kasir. Dan kalau penuh, juga harus antre.
· Tidak tertarik membuat franchise?
Bukan tidak tertarik. Tanggung jawabnya terlalu besar. Kalau mau nekat mau ngejar uangnya, tinggal sebut angka juga pasti bisa. Tapi, tanggung jawab kami sama pembeli gimana. Kalau kami sendiri belum yakin dengan standarisasinya gimana.
Steak itu sangat personalized. Selama ini Mas Afit masih menangani sendiri di dapur, belum bisa menemukan standarisasi yang bisa kami bagi. Dia juga bener-bener hati-hati milih siapa yang membantu masak. Karena semua yang kami sajikan juga harus dengan hati.
· Idealisme Holycow!?
Holycow! bukan sekadar tempat wisata kuliner dan ladang bisnis menangguk untung, tapi jadi salah satu sarana memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Mulai dari membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan, dan memberi kontribusi kepada orang banyak.
***
(Semangat itulah yang membuat Lucy dan suami tergerak membuat program #HolycowGivesBack, semacam gerakan sosial untuk pendidikan. Juga bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang berkegiatan positif seperti Indonesia Berkebun sebagai supplier bayam organik.)
(ren)
