« Kembali
RESENSI FILM
Soegija, Berperang dalam Diam
Soegija terkenal dengan silent diplomacy-nya.
Maya Sofia, Rizky Sekar Afrisia
Kamis, 31 Mei 2012, 10:46 WIB
Selain menampilkan kemanusiaan yang beragam, film ini juga banyak menampilkan otokritik untuk bangsa. (Facebook.com/soegijathemovie)
Selain menampilkan kemanusiaan yang beragam, film ini juga banyak menampilkan otokritik untuk bangsa. (Facebook.com/soegijathemovie)

VIVAlife - Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.

Film ini dimulai dengan goresan pena seorang Romo (Nirwan Dewanto) di atas kertas, yang sekaligus menjadi curahan hatinya. Ia sedang di tengah perang kala itu, ketika para penduduk pribumi harus berlutut dan menunduk di bawah makian serta todongan senjata Belanda.

Di masa serba tertekan itu, sang Romo mendapat kehormatan menjadi pribumi pertama yang dilantik sebagai Uskup Danaba. Ia pun lebih dikenal dengan sebutan Mgr. Alb. Soegijapranata SJ, dan hijrah dari gerejanya di Yogyakarta ke Semarang.

Dengan ‘jabatan’ itu, Romo lebih dihormati. Yang datang ke gereja mendengarkan ceramahnya bukan hanya penduduk lokal, tetapi juga orang-orang Belanda. Meski begitu, kesehariannya yang bersahaja dan merakyat, tak berubah.

Tahun demi tahun berganti, penjajah datang dan pergi. Jepang masuk Indonesia tahun 1942, Belanda takluk dan harus rela dilucuti senjatanya. Mereka ingin menduduki gereja sebagai markas, namun dengan tegas Soegija menolak.

“Penggal dulu kepala saya,” ujarnya singkat.

Ia memang tidak terjun langsung untuk berperang, namun di setiap masa andilnya selalu tampak. Saat penduduk butuh tempat bernaung karena kondisi jalanan chaos, Soegija membuka lebar-lebar pintu gereja untuk menampung mereka. Ia memerintahkan penyaluran makanan lebih dulu untuk rakyat yang kelaparan, baru untuk para imam.

Saat Hiroshima – Nagasaki di-bom dan masyarakat menuntut kemerdekaan yang belum juga diakui oleh sekutu yang kembali datang ke Indonesia, Soegija berdiplomasi dengan Vatikan sehingga negara itu menjadi negara Barat pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia.

Soegija memang terkenal dengan silent diplomacy-nya. Tanpa harus menggunakan kekerasan dan senjata, iman dan semangat kemanusiaannya dapat menjadi panutan yang tak lekang waktu. Menurutnya, menggalang cinta kasih dan keadilan belum cukup, juga perlu bertempur dengan lembut untuk kemerdekaan. Berkat kegigihannya itu, Seogija menjadi uskup pribumi pertama yang mendapat gelar pahlawan nasional dari Soekarno.

Film garapan sutradara Garin Nugroho yang dibuat melalui riset panjang ini bukan film misionaris agama Katolik seperti yang banyak diperdebatkan. Tokohnya juga tidak melulu Soegija. Film ini menampilkan sisi humanis yang masih ada dalam sebuah perang.

Mariyem (Annisa Hertami) yang terpisah dari kakaknya Maryono (Abe) akibat perang, kembali dipertemukan dalam kondisi berbeda. Ling Ling (Andrea Reva) seorang bocah Tionghoa juga terpisah dari mamanya (Olga Lydia), kembali bertemu dalam sebuah momen di gereja. Tokoh menggelitik pun ditampilkan, seorang bocah yang hanya bisa mengeja kata ‘merdeka’ tapi punya semangat juang dan selalu menjadi garda terdepan pasukan pemuda.

Rasa kemanusiaan juga dimiliki para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), pemimpin tentara Jepang, tak pernah tega pada anak-anak karena ingat anaknya di rumah. Robert (Wouter Zweers), tentara Belanda yang sangat bernafsu menjadi mesin perang paling hebat, perasaannya luluh saat menemukan bayi di medan perang. Hendrick (Wouter Braaf), jurnalis asal Belanda, pun selalu memotret ekspresi-ekspresi manusiawi dan nasionalisme Indonesia. Ia menemukan cintanya, namun tak mampu bersatu karena perang.

Selain menampilkan kemanusiaan yang beragam, film ini juga banyak menampilkan otokritik untuk bangsa. Baik berupa visual, maupun kata-kata satir dari goresan pena dan ucapan Soegija sendiri. Kata-kata seperti “Apakah yang harus dilakukan seorang pemimpin di tengah krisis dan perubahan zaman?” serta “Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka, jika gagal untuk mendidik diri sendiri,” patut dicermati lebih dalam makna di baliknya.

“Perjuangan sudah selesai, sekarang tinggal bagaimana menata negara dan melayani masyarakat. Kalau mau jadi politikus, harus punya mental politik. Kalau tidak, yang ada dalam pikirannya hanya kekuasaan dan akan menjadi benalu negara,” pesan Soegija di akhir film itu, seakan menjadi perenungan bagi para pemimpin sekaligus rakyat Indonesia di masa sekarang. (eh)

 

• VIVAlife   |   Share :  
  • salekopundu
    20/06/2012
       Laporkan
    fathirone : Menurut sejarah ??? Film tersebut juga dibuat berdasarkan sejarah bro, tp tidak ada hubungannya dengan agama manapun. | via VIVAnews
    • jujur aja gw ga bgtu knal dgan pahlawan satu nih.. yg gw tau berjuang dalam diam itu artinya "males" pahlawan lainya berjuang dengan harta dan jiwa mereka.. ga ada cerita berjuang dlm diam ujuk ujuk merdeka.. | via VIVAnews
  • andariesta
    19/06/2012
       Laporkan
    pengen ngukuhkan bhw mereka juga berjuang... bagaimana dengan tentara knil yg kemudian menjadi wakil panglima jend. soedirman yaitu jend. oerip s? dia knil waktu belanda berkuasa, pasukan knil nindas rakyat indonesia juga... | via VIVAnews
  • cakno
    03/06/2012
       Laporkan
    Perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan mengangkat senjata (perang). Cara ini bukan cuma dilakukan Soegija, tapi juga banyak tokoh lain yang melakukannya. Gak ada hubungannya dengan agama. Saya kira itu pesan yang ingin disampaikan. | via VIVAnews
  • @Fathirone: Masak tidak bisa menangkap maksudnya? Indonesia didirikan di atas darah para pahlawan yang bermacam-macam agamanya. Mayoritas memang muslim, karena paling banyak pemeluknya, tapi tidak berarti menafikan sumbangsih dari tokoh beragama lain juga | via VIVAnews
  • fathirone
    02/06/2012
       Laporkan
    masa sih pastur yang mengobarkan semangat perang di semarang, padahal menurut sejarah para pejuang muslimlah yang mengobarkan semangat jihad rakyat untuk mengusir penjajah!!! :D | via VIVAnews
    • perjuangan dilakukan semua etnis, tdk memandang agama. perjuangan dg senjata dan pemikiran sama2 berguna
  • frogman
    31/05/2012
       Laporkan
    Film kualitas tinggi nih....kapan tayang premier ya..... | via VIVAnews
berita terkait
  • Cita-Cita Setinggi Tanah Bocah Asal Muntilan

  • Menemukan Pelabuhan Hati 'Perahu Kertas 2'

  • Film The Raid Diputar Perdana di Hong Kong


Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com