« Kembali
Kenali Pengobatan Nyeri Pinggang
"Nyeri pinggang dapat berakibat fatal dan harus operasi jika dibiarkan berlarut-larut.”
Pipiet Tri Noorastuti, Febry Abbdinnah
Senin, 15 Agustus 2011, 16:09 WIB
nyeri pinggang (dok. Corbis)
nyeri pinggang (dok. Corbis)

VIVAnews - Nyeri pinggang kerap muncul akibat aktivitas fisik yang berlebihan, jarang berolahraga, obesitas, dan gaya hidup tak sehat. Hampir 80 persen penduduk di seluruh dunia pernah mengalaminya. Di Indonesia, berdasar data tahun 2002, 18,37 persen masyarakat menderita keluhan serupa.

"Banyak anggapan nyeri pinggang hanya penyakit ringan karena aktivitas sehari-hari dan akan segera hilang. Padahal, nyeri pinggang dapat berakibat fatal dan harus disembuhkan dengan operasi jika dibiarkan berlarut-larut,” ucap Dr. Muki Partono, Sp.OT, dokter ahli bedah tulang dari Rumah Sakit Puri Indah.

Nyeri pinggang dibedakan berdasar tingkat keseriusannya yakni, akut dan kronik. Nyeri pinggang akut umumnya sembuh setelah enam minggu, yang biasanya akibat cidera olahraga atau aktivitas berat. Sedangkan nyeri pinggang kronik bisa bertahan hingga lebih dua bulan. Nyeri pinggang kronik memerlukan perhatian serius karena ada kemungkinan terkait dengan penyakit seperti radang, infeksi, atau osteoporosis.

Penyembuhannya bisa dengan metode tanpa operasi atau operasi. Metode yang dilakukan fokus untuk memperbaiki bantalan lumbal, yang berada di sekitar lima tulang belakang bagian bawah. Karena biasanya, nyeri pinggang terjadi akibat bantalan paling elastis tersebut tidak mampu lagi mengangkat beban sehingga mengakibatkan perenggangan tulang pinggang, peradangan sendi, atau iritasi saraf karena pergeseran mekanis.

Meski demikian, nyeri pinggang juga bisa dipicu faktor lain seperti gangguan pada usus, ginjal, infeksi, tumor, hingga gangguan organ reproduksi wanita.

Untuk pengobatan tanpa operasi, umumnya dilakukan dengan pemberian obat antiinflamasi dan pereda sakit, fisioterapi dengan ultrasound dan UKG, serta physical treatment seperti manipulasi otot dan pemijatan.

Sedangkan opsi operasi adalah opsi terkhir yang akan dilakukan dokter setelah pengobatan tersebut gagal. Operasi juga dilakukan setelah melalui serangkaian pemeriksaan seperti X-Ray, CT Scan, MRI, Selective Nerve Root Block untuk mendeteksi daerah nyeri, dan suntikan Epidural Steroid untuk mengendalikan nyeri.

Kalaupun harus diadakan operasi, luka sayatan tidak akan sebesar operasi-operasi tulang punggung sebelumnya karena saat ini telah dikembangkan pembedahan dengan metode minimal invasive yaitu dengan Micro Discectomy per Endoscopy (MDE).

“MDE adalah tindakan bedah pada kelainan penekanan saraf tulang belakang dengan menggunakan kamera dengan sayatan minimal kira-kira 1-1,5 cm. Salah satu metode MDE adalah sistem ENDOSPINE dimana sayatan lebih kecil, pendarahan operasi minimal, perawatan di rumah sakit hanya satu hari, dan tidak memerlukan alat bantu,” kata Dr. Muki.

Jadi, tidak ada lagi ketakutan untuk mengobati nyeri pinggang. Karena, kalaupun harus dilakukan operasi, luka sayatan yang diterima pasien hanya sepanjang 1,5 cm. Pasien pun dapat segera pulang dan memulihkan luka sayatan dengan obat oral selama dua minggu.

Namun, mencegah lebih baik dari mengobati. Olahraga seperti berenang, yoga dan pilates dengan konsentrasi di area tulang belakang, serta menggunakan korset secara tepat dan dengan menjalani pola hidup sehat adalah tindakan pencegahan yang dapat dilakukan. Untuk tips pencegahan nyeri pinggang lebih lanjut klik di sini.

• VIVAlife   |   Share :  

Loading..
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com