VIVALIFE

Seperlima Remaja AS Telanjang Online

Teknologi memudahkan anak-anak usia SMP-SMA menyebarkan pose sensual ke rekan-rekan.
Jum'at, 12 Desember 2008
Oleh : Indra Darmawan

Sebuah survei terbaru yang dilakukan di Amerika Serikat mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: seperlima remaja (berusia 13-17 tahun) putri mengaku pernah memposting foto diri mereka saat sedang telanjang atau setengah telanjang, secara online, maupun mengirimkan kepada orang lain melalui ponsel mereka.

Dari hasil penelitian yang sama, sepertiga remaja putra dan seperempat remaja putri awalnya membuat foto tersebut untuk koleksi pribadi, namun akhirnya memperlihatkan foto itu kepada kenalan mereka.
 
Survei tersebut dilakukan oleh dan CosmoGirl.com bersama National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy (sebuah organisasi untuk mencegah kehamilan yang tak direncanakan), dengan meneliti 1280 remaja dan anak muda di Amerika.

Walaupun begitu, kebanyakan mereka masih sadar bahwa langkah itu beresiko buruk bagi diri mereka. 73 persen dari orang muda mengetahui bahwa kegiatan tersebut bisa memicu konsekuensi negatif yang serius bagi mereka.

Yang lebih memprihatinkan, sekitar 15 persen dari mereka mengaku pernah mengirimkan konten-konten telanjang itu kepada seseorang yang hanya mereka kenal dari Internet.

66 persen persen dari remaja perempuan, mengaku bahwa memposting gambar tersebut karena memandangnya sebagai hal yang seksi atau menggoda.

Sementara 52 persen lainnya mengatakan bahwa tindakan mereka merupakan bentuk dari hadiah yang seksi untuk kawan laki-laki
mereka. Malahan, 40 persen dari mereka melakukannya sebagai lelucon semata.

Kiprah remaja di AS itu tak beda dengan kelompok umur di atasnya. Sepertiga dari orang muda yang berusia antara 20-26 tahun juga
pernah mengirim foto telanjang dan semi-telanjang mereka secara online atau mengirimnya melalui ponsel.

"Begitu banyak anak muda mengatakan bahwa teknologi membuat mereka menjadi lebih lepas dan bergaul secara bebas, sehingga membuat kehamilan yang tidak direncanakan begitu tinggi di Amerika Serikat," ujar Marisa Nightingale, dari National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy, seperti dikutip dari situs thesundaily.com.

Menurut perkiraan Nielsen Mobile, sekitar 80% remaja berusia 13-17 tahun dan 93% anak muda berusia 18-24 tahun di Amerika Serikat menggunakan ponsel yang kebanyakan dilengkapi dengan kamera digital.

Walaupun foto-foto mereka awalnya dimaksudkan untuk koleksi pribadi, akhirnya foto tersebut bisa tersebar setelah pasangan remaja putus dan berganti pacar.

Contohnya pengakuan remaja SMA Mayron Gezaw, yang berusia 17 tahun dan tinggal di Fairfax, Amerika Serikat. Ia sempat mendapatkan
foto-foto telanjang teman kelasnya yang menyebar lewat pacarnya.

Foto itu menyebar dan seluruh kelas melihatnya. Para rekan-rekan
pria memandangnya sebagai gadis yang 'hot', Sementara rekan-rekan wanita lainnya justru kehilangan rasa hormat kepadanya," ujar Gezaw.

Walaupun fakta ini terjadi di Amerika, bukan berarti para orang tua di Indonesia bisa tidur dengan nyenyak. Beredarnya berbagai
macam foto atau video telanjang anak-anak SMA dan kuliahan, membuktikan bahwa pergeseran norma-norma akibat kemajuan teknologi, juga terjadi di sini.

"Para orang tua seharusnya mengerti bahwa pemahaman tentang apa yang menjadi wilayah publik, wilayah pribadi, dan sesuatu yang 'patut', kini sudah sangat berbeda dengan konsep yang dimiliki anak-anak mereka saat ini," ujar Marisa Nightingale.

TERKAIT
TERPOPULER